Krisis Listrik Aceh Dilapor ke Wapres

Banda Aceh, Lam siminggu nyo pasti tip uro na padum go mate lampu. (Analisa). Krisis listrik yang berkepanjangan di Aceh dengan maraknya aksi pemadaman bergilir tanpa kenal waktu oleh PT PLN (Persero) Wilayah Aceh dengan berbagai alasan, membuat Pemerintah Aceh resah karena kebutuhan energi tak bisa dipenuhi.

Karena dinilai tak ada solusi kongkrit, membuat Gubernur Zaini Abdullah melaporkan krisis energi listrik tersebut kepada Wakil Presiden (Wapres) M.Jusuf Kalla. Menurutnya, PLN masih kesulitan mengatasi krisis listrik di Bumi Serambi Mekkah, meski selalu dilaporkan provinsi itu sudah swasembada listrik.

Gubernur Zaini Abdullah melaporkan kondisi layanan PLN Aceh terkait pemenuhan daya listrik, saat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh menggelar pertemuan tertutup dengan Wakil Presiden, Jusuf Kalla di Jakarta, Kamis (28/4).

Dalam pertemuan tersebut, unsur Forkopimda Aceh yang hadir antara lain Gubernur Zaini Abdullah, Wali Nanggroe Malik Mahmud, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI L. Rudy Polandi, Kapolda Irjen Pol Husein Hamidi, Kajati Raja Nafrizal SH dan Ketua DPRA Tgk. Muharuddin. Turut juga Ketua Komisi I DPRA Abdullah Saleh dan Ketua Fraksi Partai Aceh Kautsar.

Zaini meminta pemerintah pusat untuk meningkatkan status PLN Aceh. Karena selama ini, kendala utama PLN Aceh masih menjadi bagian atau tunduk kepada PLN di Sumatera Utara. Sehingga tidak leluasa mengelola sumber energi listrik yang terdapat di wilayah Aceh.

Untuk itu, gubernur meminta agar status PLN Aceh bisa ditingkatkan, bahkan berdiri sendiri sehingga punya kewenangan penuh untuk mengelola sumber energi listrik lokal Aceh.

Menanggapi permintaan Zaini atas peningkatan status PLN Aceh menjadi otonom atau berdiri sendiri dalam pengeloalan energi listrik yang bersumber di Aceh, Wapres Jusuf Kalla mendukungnya.

Wapres berjanji akan segera memanggil semua pihak dan membawa permasalahan dalam rapat kabinet untuk merealisasikannya secepat mungkin guna mengatasi krisis listrik berkepanjangan di Aceh.

“Pak JK menyetujui peningkatan status PLN Aceh, sehingga bisa mengelola sumber daya listrik sendiri dan tak bergantung lagi ke Sumut,” ujar Zaini Abdullah seraya menambahkan, sampai sekarang  status PLN Aceh berada di bawah Kantor PLN Sumut, sehingga tidak memiliki kuasa apabila ingin mengelola sumber daya listrik sendiri.

Dengan peningkatan status nantinya, maka PLN Aceh punya wewenang penuh memanfaatkan sumber daya listrik yang ada di Aceh untuk kepentingan Aceh. (mhd)

sumber: analisadaily

Mahasiswa Gembok Pintu Pagar PLN Aceh

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unsyiah, menggelar aksi di depan kantor PLN Aceh di Lampriek, Banda Aceh, Rabu (27/4/2016) sekira pukul 10.30 WIB.

Dalam aksinya, mahasiswa menggembok pintu pagar PLN sebagai bentuk kekesalan mahasiswa atas terjadinya pemadaman listrik beberapa hari ini di Aceh.

"Pagar ini sengaja kita gembok karena PLN telah ingkar janji dengan masyarakat Aceh, katanya pasokan daya listrik akan beres tapi terus saja bermasalah dan selalu saja ada pemadaman," kata Heri Safrizal sebagai koordinator aksi.

Selain menggembok pintu pagar dengan gembok dan rantai besi, mahasiswa juga melancarkan aksi seperti biasa. Meski jumlah mahasiswa yang beraksi tidak mencapai sepuluh orang, aksi itu dikawal ketat oleh pihak kepolisian. (*)

Sumber: tribunnews

13 Tiang Listrik di Jalan Medan-Banda Aceh Tumbang

Akhir-akhir ini kaem that mati lampu kan? Jangan bentak-bentakPLN dulu. Mari kita cari tahu dahulu.

Sebanyak 13 tiang listrik tumbang ke badan jalan Medan - Banda Aceh, tepatnya di Keude Simpang Mulieng, menuju Peurupok, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh utara, Minggu (24/4/2016) tengah malam.

Tumbangnya tiang listrik milik PLN itu terjadi sekitar pukul 01.20 WIB, karena hujan deras yang mengakibatkan tanah di sekitar parit jalan sehingga longsor.

Pascakejadian, 24 travo di Kecamatan Syamtalira Aron dan Tanah Pasir padam yang mengakibatkan aliran listrik ke 27 desa terputus.

Hampir 1 kilometer badan jalan tertutup tiang yang tumbang.

Kronologis kejadian, pada jam 01.20 WIB pagi dini hari terjadi trip penyulang LW 5 dan 6, setelah dilakukan pengecekan diketahui sebanyak 14 batang tiang listrik tersebut tumbang ke badan jalan, akibat tanah longsor setelah diguyur hujan.

Tindakan awal yang dilakukan oleh petugas PLN yaitu melakukan pengamanan lokasi, setelah itu melokalisir titik gangguan dan memanuver beban untuk memperkecil pelanggan padam.

Awalnya Warga sekitar Keude Simpang Mulieng, mengalami padam listrik beberapa saat, setelah diatasi petugas PLN dilapangan aliran listrik mulai normal kembali.

Sementara itu, di dua kecamatan yaitu Syataliran Aron, dan Tanah Pasir, sekitar 2.750 pelanggan masih mengalami padam listrik.

Asisten Manajer Jaringan PT PLN Cabang Lhokseumawe, Heru Eriady kepada, Serambinews.com (Tribunnews.com network) saat ditemui di lokasi mengatakan pihaknya akan berupaya, semaksimal mungkin 14 batang tiang listrik yang sudah roboh ke jalan, akan diperbaiki sekarang juga.

Diperkirakan pengerjaan akan selesai pada sore hari dan suplai listrik akan normal kembali pukul 18.00 WIB.

Bagi pengendara yang melintas di jalan Medan Banda Aceh, Keude Simpang Mulim, sementara hanya bisa digunakan satu arah jalur, karena 14 tiang tersebut masih menimpa badan jalan lintas nasional tersebut.

Sampai berita ini diturunkan petugas PLN sedang mengerjakan dan membenahi tiang listrik yang masih menutupi badan jalan Medan Banda Aceh tersebut.(Serambi Indonesia/ Zaki Mubarak)

sumber : tribunnews

WOW, Masa Tunggu Jamaah Haji Aceh 25 Tahun

BANDA ACEH - Daftar tunggu (waiting list) calon jamaah haji Aceh hingga 11 April 2016 mencapai 79.145 orang dengan masa tunggu diperkirakan seperempat abad atau 25 tahun.

Pada musim haji tahun ini belum ada penambahan kuota untuk jamaah haji Aceh maupun provinsi lainnya di Indonesia, sebab Pemerintah Arab Saudi belum mengembalikan ke kuota normal, yaitu 3.888 jamaah per tahun.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh, Drs H Herman MSc menyampaikan hal itu kepada Serambi di Banda Aceh, Senin (18/4).

“Tahun ini kuota haji Aceh masih sama, yaitu 3.111 jamaah, belum ada penambahan kuota. Karena lamanya masa tunggu, sehingga tidak diperlukan lagi surat kesehatan,” ujarnya.

Herman juga menambahkan, berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 bagi yang sudah pernah berhaji, maka baru diperkenankan untuk mendaftar haji lagi setelah sepuluh tahun, yaitu terhitung sejak menunaikan ibadah haji yang terakhir. “Misal sudah naik haji tahun ini, maka boleh mendaftar lagi sepuluh tahun ke depan,” kata Herman.

Di dalam PMA itu juga, lanjut Herman, prosedur pendaftaran haji mulai tahun ini diperpendek, yaitu jamaah calon haji (JCH) cukup sekali mendatangi Bank Penerima Setoran (BPS) Biaya

Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) setempat untuk membuka buku tabungan haji. Selanjutnya, BPS mentransfer uang tersebut ke rekening Kementerian Agama RI dan mengeluarkan nomor validasi sebagai bukti sudah membayar BPIH.

Kemudian, JCH mendatangi kankemenag kabupaten/kota setempat untuk menyerahkan kelengkapan pendaftaran haji, yaitu fotokopi buku tabungan haji, nomor validasi, KTP, KK, ijazah atau akte kelahiran atau buku nikah.

Setelah itu, JCH mengisi blangko Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) yang disediakan kankemenag setempat. “Lalu sidik jari dan difoto dengan ukuran 3x4 cm, setelah itu langsung dikeluarkan nomor porsi oleh kankemenag setempat. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pendaftaran haji. Jadi, JCH cukup sekali saja mendatangi bank dan kankemenag. Sebelum diberlakukan peraturan ini JCH mendatangi bank dan kankemenag masing-masing sebanyak dua kali,” kata Herman.

Dengan prosedur pendaftaran haji tersebut, lanjutnya, JCH dapat menyelesaikan pendaftaran haji paling lama satu hari. Tapi dengan ketentuan bahwa apabila semua persyaratan itu sudah disiapkan JCH sebelum ke BPS untuk menyetor BPIH.

Kabid PHU Kanwil Kemenag Aceh, Drs Herman MSc juga menyampaikan bahwa pendaftaran petugas haji sudah dibuka mulai 18-21 April, yaitu untuk menjadi anggota Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) dan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) masing-masing diterima delapan orang, serta Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi lima orang.

Tenaga yang akan direkrut untuk TPHI dari unsur kemenag kabupaten/kota, penyuluh dan KUA. Sedangkan TPIHI dari unsur pondok pesantren, ormas, akademisi UIN Ar-Raniry, sedangkan PPIH dari kalangan kankemenag kabupaten/kota. “Dari unsur pondok pesantren, ormas, dan UIN pendaftaran dilakukan di Kanwil Kemenag Aceh, sedangkan dari unsur lainnya pendaftaran tetap dilakukan di kankemenag kabupaten/kota setempat,” katanya.

Terkait syarat-syarat yang harus dipenuhi petugas haji ini secara umum, di antaranya warga negara Indonesia, beragama Islam, KTP yang masih berlaku, surat keterangan sehat yang dikeluarkan oleh dokter pemerintah, tidak terlibat dalam proses hukum baik pidana maupun perdata yang sedang berlangsung, dapat membaca Alquran secara baik dan benar, serta bagi calon petugas perempuan tidak dalam keadaan hamil.

“Untuk informasi selengkapnya calon petugas dapat mendatangi kankemenag di kabupaten/kota masing-masing,” demikian Herman. (una)

sumber: http://aceh.tribunnews.com/2016/04/19/masa-tunggu-jamaah-haji-aceh-14-abad

Mengintip Prostitusi Kalangan Pelajar di Lhokseumawe

ACEH - Prostitusi pelajar di Lhokseumawe melibatkan siswi SLTA bahkan SLTP. Umumnya, mereka berasal dari keluarga yang berantakan dan terpengaruh lingkungan bergaya hedonis.

Malam segera menanjak, dinginnya malam seakan menghangat di salah satu cafe di kawasan Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Beberapa perempuan berkulit putih asyik mengobrol. Sesekali melihat ke kiri dan kanan sambil melempar senyum.

Mestinya menjelang tengah malam begini, anak dara tidak lagi berkeliaran. Tapi mereka bukan dara biasa. Mereka sengaja mangkal di sekitar cafe untuk mencari penghasilan dengan mengaet pria-pria hidung belang.

Jangan bayangkan anak dara ini tampil dengan riasan menor, dada terbuka, dan rok mini. Pakaian mereka tak beda dengan gadis-gadis Aceh pada umumnya, yakni berjilbab dan mengenakan jeans. Ketika ada pria mendekat, mereka menyambutnya akrab. Senyum sumringah membuat mereka tampak memesona. Seorang di antaranya lantas menyapa, “apa kabar bang"?

Sebut saja namanya Rindu (bukan nama sebenarnya), dia masih murid SMA di Lhokseumawe. Hidungnya mancung, tingginya sekitar 155cm. Malam itu, tubuh langsingnya dibalut kemeja dan celana jeans.

Rindu mengaku sudah setahun terjun ke dunia gelap itu. Kecewa kepada pacar menjadi pemicu. Saat berpacaran, ia beberapa kali melakukan hubungan intim, seiring sang pacar ketahuan selingkuh dengan perempuan lain.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ia beranggapan dirinya sudah tidak lagi perawan sehingga bisa melakukan hubungan seksual dengan siapa saja. Baginya paling penting dibayar sesuai tarif.

“Coba abang bayangkan, aku sudah tak perawan lagi. Kalau pun diam aja, perawan aku kan nggak bisa balik juga. Lebih bagus begini sajalah, setiap ada tamu aku dibayar,” ujarnya polos baru-baru ini, dilansir dari Waspada Online.

Dia juga mengaku tidak mencari kepuasan, semuanya semata demi uang untuk memenuhi gaya hidup. Tarif berkencan dengannya bervariasi, short time Rp300 ribu, long time Rp1-1,5 juta. Biasanya, pelanggan membawanya ke hotel dan rumah kos. Kadang bisa berlangsung di tempat lain, seperti mobil dan tempat yang dianggap aman. Dirinya juga sering diajak ke Medan dan menginap di salah satu hotel berbintang.

Kepala Satpol PP dan Waliyatul Hisbah (WH) Kota Lhokseumawe, Irsyadi, menyatakan aktivitas PSK di Lhokseumawe terselubung. Dikatakan, umumnya para gadis itu terjun ke dunia gelap disebabkan keluarga broken home.

sumber : okezone

Proyek Underpass, Jalan T Hamzah Bendahara (arah Jembatan Beurawe) Ditutup

Jalan T Hamzah Bendahara, Kecamatan Kuta Alam ke arah Jembatan Beurawe, mulai Minggu 17 April 2016 ditutup selama dua bulan. Penutupan jalan dimulai dari depan Hotel Diana hingga ke arah Jembatan Beurawe, karena dimulainya pengerjaan proyek underpass (jalan bawah tanah) Beurawe.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika (Dishubkomintel) Aceh melalui Kepala Seksi Pengawasan Keselamatan dan Bimbingan Sarana (PKBS) Bidang Perhubungan Darat, Nizarli SSit MT, Jumat 15 April 2016 mengatakan, penutupan jalan itu berdasarkan hasil rapat yang melibatkan instansi terkait.

“Proyek underpass dimulai hari Minggu 17 April 2016 pukul 16.00 WIB. Sejumlah alat berat akan ditempatkan dari ujung jembatan Beurawe hingga Masjid Asrama Polisi Kuta Alam,” ujarnya, seraya menyebut rapat yang digelar pukul 10.00 WIB itu diikuti perwakilan Dishubkomintel Aceh, Dishubkominfo Banda Aceh, Ditlantas Polda Aceh, Polresta Banda Aceh, dan pelaksana proyek underpass Beurawe.

Dia mengatakan, karena ditempatkan alat berat di kawasan itu, maka sebagian Jalan T Hamzah Bendahara dimulai dari depan Hotel Diana hingga ke ujung jembatan Beurawe ditutup. “Kami akan pasang blokade di depan hotel Diana. Pengguna jalan dari arah Kuta Alam bisa melewati gang yang tembus ke Jalan T Hasan Dek,” kata dia.

Sedangkan pengguna jalan dari arah Simpang Surabaya ke Jambo Tape maupun sebaliknya akan dilakukan tidal flow (dijadikan satu jalur). “Dari jembatan hingga Eks Swalayan Pante Pirak Beurawe akan dibuat satu jalur. Jalur sebelah kiri dari arah Simpang Surabaya ditutup,”ujarnya. Karena itu, para pengguna jalan yang buru-buru disarankan menempuh jalur lain karena ada penyempitan jalur.
Menurut Nizarli, pihaknya akan mengevaluasi rekayasa lalu lintas setelah pemberlakuan tersebut. “Kami akan lihat perkembangannya setelah perberlakuan tidal flow di Beurawe nanti. Semoga masyarakat bisa memaklumi kondisi tersebut, sebab ini demi kenyamanan dan keamanan kita semua,” kata dia.

Jalur Angkutan Umum Dialihkan
Sementara itu, terkait jalur angkutan umum labi-labi jurusan Ulee Kareng yang biasanya melewati Jalan T Hamzah Bendahara, menurut Nizarli akan dialihkan. “Para sopir labi-labi dari Simpang Lima bisa menuju arah Jambo Tape. Atau tetap bisa melewatiJalan T Hamzah Bendahara, tapi sebelum sampai Hotel Diana masuk gang yang tembus ke Jalan T Hasan Dek,” kata dia.

sumber : serambi