Juni, Lalu Lintas ke Darussalam Dialihkan

* Pekan Depan Sp Surabaya Ditutup 

BANDA ACEH - Info penting bagi yang sehari-hari menggunakan akses jalan jembatan lamnyong ke darussalam maupun sebaliknya. Arus lalu lintas (Lalin) dari Banda Aceh menuju Kopelmas Darussalam mulai awal Juni 2016 dialihkan. Pengalihan tersebut dilakukan dalam rangka pembangunan Jembatan Lamnyong, khususnya pengerjaan underpass (jalan bawah tanah) Rukoh-Limpok, oleh PT Waskita Karya Tbk. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 23 Desember 2016.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika (Dishubkomintel) Aceh, melalui Kepala Seksi Pengawasan Keselamatan dan Bimbingan Sarana (PKBS) Bidang Perhubungan Darat, Nizarli SSit MT kemarin mengatakan, penutupan jalan itu berdasarkan hasil rapat Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Aceh pada 25 Mei di Kantor Dishubkomintel Aceh.

Menurutnya, pengalihan arus lalu lintas dilakukan agar pembangunan underpass Rukoh-Limpok dapat terwujud sesuai rencana. Katanya, masyarakat yang datang dari arah Lamnyong menuju Darussalam, tidak bisa melewati jalan menurun setelah jembatan, sebab area tersebut bakal ditutup. Setelah melewati Jembatan Lamnyong, pengendara harus berbelok kiri ke Jalan Inspeksi dan jalan lurus ke arah mushalla di sebelah kanan jalan. “Di sebelah mushalla, akan dijumpai dua jembatan, yaitu jembatan lama tepat di sebelah mushalla, dan jembatan baru dengan ukuran lebih lebar yang dibangun pelaksana proyek. Kedua jembatan tersebut dapat digunakan masyarakat yang akan menuju Darussalam maupun Rukoh,” jelasnya.

Setelah melewati jembatan tersebut, masyarakat yang menuju Rukoh dapat berbelok ke kiri, sedangkan yang akan menuju ke Darussalam berbelok kanan. Sementara masyarakat dari arah Darussalam menuju ke Lamnyong, kata Nizarli, diminta berbelok kiri ke arah Limpok, dan belok kanan memutar ke arah jembatan Lamnyong.

Ditutup Pekan Depan       
Di bagian lain, Nizarli SSit MT mengatakan, pihaknya mulai minggu depan akan menutup sebagian Jalan Tgk Chik Ditiro (Simpang Surabaya-Peuniti), untuk pembangunan Fly Over Simpang Surabaya mulai minggu depan. Penutupan tersebut berlaku pada kedua jalur, yaitu Simpang Surabaya-Peuniti maupun sebaliknya. 

Menurut Nizarli, hal tersebut dilakukan karena kawasan tersebut masih dipenuhi utilitas PDAM dan PLN, dan masalah pembebasan tanah. Sebutnya, proyek fly over harus terus berjalan. Sejumlah utilitas di area proyek itu harus dibersihkan, begitu juga dengan tanah yang belum dibebaskan harus dituntaskan segera. “Area yang ditutup yaitu dari Gedung Keuangan Peuniti hingga toko ponsel di ujung Simpang Surabaya,” katanya.(fit)

Alhamdulillah, Wanita Asal Amerika Ini Memeluk Islam di Banda Aceh

Emma Wei, gadis asal California, Amerika Serikat, Jumat (27/6) kemarin memutuskan memeluk Islam dengan mengucap dua kalimah syahadat yang dibimbing Ustad Drs Syaifuddin di Masjid Taqwa, Gampong Seutui, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Gadis keturunan Taiwan yang lahir 6 Februari 1993 ini, mendapat hidayah Allah SWT ketika dirinya sering mendengar kata-kata basmalah (ucapan pembukaan Bismillah) yang keluar dari mulut rekan-rekannya yang dia kenal di salah satu pusat kebugaran gym kawasan Neusu Aceh, Banda Aceh.

Karena penasaran, sehingga Emma Wei menanyakan makna dari kata-kata tersebut. Didampingi dua rekannya Yulizar dan Khasmuriadi alias Ade, Emma mengaku kagum ketika tahu makna kata-kata itu, ternyata mengingat sang pencipta. Pasalnya gadis yang dulunya bekerja di satu yayasan di kawasan Geucue Kompleks dan bergerak di bidang kepedulian terhadap anak, mulai pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya itu, pernah meyakini kepercayaan agnostik, yakni sebuah aliran yang tidak mengakui agama. Tapi, mengaku adanya tuhan. 

Ia mengaku selama di Aceh, kaum muslim, terutama rekan-rekannya yang dia kenal di Radja Gym dilihat cukup sopan dan memiliki akhlak baik dan sering mengajaknya bicara, meski mereka mengetahui dirinya seorang nonmuslim. 

Bahkan mereka, sebutnya bersedia membantu, bila ada hal-hal yang diperlukan dalam suatu pekerjaan atau kendalam selama berada di Aceh. Lalu, lanjutnya, kekaguman lainnya yang dirasakan Emma Wei yang kini berganti nama Annisa Humaira itu saat melihat kaum muslimin melaksanakan shalat berjamaah dan dalam lima waktu. Lalu suara azan dan pengajian merupakan lantunan yang diakui membuat hatinya tenang. 

Selama berada di Aceh, Annisa mengaku sama sekali tidak takut. Hal itu dikarenakan perlakuan teman-temannya dari muslim begitu baik dan sangat menghargainya. Proses pensyahadatan yang dipandu ustad Syaifuddin. Pensyahadatan itu juga ikut disaksikan Kadis Syariat Islam (DSI) Banda Aceh, Mairul Hazami, Keuchik Gampong Seutui, Syaiful Banta SE Ak, Camat Baiturrahman, M Rizal SSTP serta unsur Muspika lainnya.(mir)

sumber: tribunnews

Hujan Es Guyur Aceh Utara

Kawasan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (25/5/2016) sore diguyur hujan es. Saat itu, hujan deras memang mengguyur kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe. Namun, warga tak sempat mengambil butiran es tersebut karena hujan deras yang terjadi dari pukul 14.30 WIB-pukul 15.30 WIB, juga disertai petir.

Informasi yang diperoleh Serambinews.com, guyuran es tersebut terjadi dalam waktu yang tak lama, saat berlangsung hujan deras tersebut. Butiran hujan es tersebut sebesar biji jagung.

“Awalnya, saya mendengar suara keras di atap warung kopi (warkop) saat sedang berjualan. Lalu, saya lihat di atas kaca mobil yang parkir di depan warkop, ada butiran es. Namun, saya tak berani mengambilnya karena saat itu sedang hujan deras disertai petir,” ujar Anis (20), asal Lhoksukon kepada Serambinews.com.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lhokseumawe, Nursyamsi M Alfian kepada Serambinews.com menyebutkan, pihaknya belum memiliki alat untuk mendeteksi terjad hujan es.

Namun, menurutnya, ada kemungkinan terjadi hujan es, meskipun kecil. Jika terjadi hujan es, menurut Nusyamsi, itu sudah termasuk fenomena cuaca ekstrem.
“Tapi, kami belum dapat informasinya,” katanya.

sumber: tribunnews

Angin Kencang di Aceh Capai 40 KMPH, Warga Diminta Waspada!

Banda Aceh: Angin kencang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Aceh. Warga pun diminta berhati-hati karena angin kencang dapat menumbangkan pohon.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Aceh mencatat angin kencang mencapai kecepatan 60 kilometer per jam (Kmph). Angin bertiup kencang disertai dengan hujan deras.

Kepal Seksi Informasi dan Data BMKG Stasiun Blang Bintang, Zakaria, mengatakan angin kencang terjadi di Sabang, Simeulu, Singkil, dan kawasan barat selatan Aceh.

Menurut Zakaria, angin kencang dipicu pusaran angin yang terjadi di Samudera Hindia. Pusaran angin itu juga mengakibatkan awan chibi yang berpotensi hujan turun di sebagian besar wilayah Aceh.

"Angin kencang terjadi di siang dan sore hari dan berpengaruh para tingginya gelombang laut," kata Zakaria, Selasa (24/5/2016).

Angin puting beliung diprediksi tak terjadi. Hanya saja, gelombang di Selat Malaka bagian tengah dan perairan Lhknga mencapai ketinggian hingga dua meter. Zakaria pun meminta nelayan berhati-hati saat melaut di perairan tersebut.

"Jika ada awan hitam kita minta para nelayan untuk segera kembali ke daratan," ungkap Zakaria.

sumber: metrotvnews

Inflasi Sarjana di Aceh

Oleh Saiful Mahdi

SETIAP memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) --termasuk yang baru kita peringati pada 20 Mei 2016 lalu-- kita kembali mengevaluasi di mana posisi Bangsa ini dalam konstelasi antarbangsa. Lagi dan lagi kita mendapati banyaknya indikator Bangsa kita masih tertinggal di banding bangsa lain, termasuk di kawasan ASEAN. Kekayaan sumber daya alam (SDA) kita ternyata belum dapat membawa kesejahteraan untuk semua. Hasil kajian di banyak tempat memang menunjukkan bahwa SDA hanya syarat perlu tapi belum cukup untuk kebangkitan dan kemajuan sebuah bangsa. Kuantitas dan terutama sekali kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah syarat cukup bahkan mutlak di era ilmu pengetahuan ini.

Di tingkat lebih mikro, Aceh adalah contoh bagaimana kekayaan alam belum bisa mensejahterakan rakyatnya. Selain mis-manajemen dan KKN oleh pengelola sumber daya di Aceh, kualitas SDM adalah penyebab sekaligus akibat dari beragam masalah kita. Anehnya, ini terjadi di tengah melimpahnya jumlah tenaga terdidik, khususnya sarjana di Aceh.

Setiap tahun ribuan sarjana dihasilkan oleh sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di Aceh. Menjadi sarjana adalah sebuah kebanggaan. Banyak orang tua ingin anaknya menjadi sarjana. Calon mertua, konon juga lebih memilih calon menantu yang sarjana. Menjadi sarjana, kata seorang Rektor PTS di Aceh suatu ketika, juga bisa meningkatkan rasa percaya diri generasi muda kita. Kalau tak bisa menjadi sarjana dari PTN, biarkanlah mereka jadi sarjana dari PTS. Karena itu, logikanya, mari kita terus produksi sarjana.

Mungkin karena logika itu, makin banyak PTN dan PTS yang hadir di Aceh. Bagi yang sudah PTS kemudian ingin jadi PTN. Alasannya agar mendapat “dana dari pemerintah”. Bahkan yang PTS pun seringkali tak sepenuhnya swasta, alias tetap mengharapkan bantuan pemerintah. Dana pemerintah pusat lewat Kopertis dan dana pemerintah daerah lewat bantuan hibah atau bantuan lainnya.

Ada sejumlah kekeliruan cara pikir dalam pandangan seperti di atas. Pertama, produksi sarjana berlebihan mungkin baik untuk jangka pendek, tapi perlu dipikirkan dampak jangka panjangnya untuk Aceh. Apalagi kalau peningkatan kuantitas tidak diikuti oleh membaiknya kualitas. Juga, berapa sebenarnya kebutuhan sarjana di Aceh?

Kedua, dalam sistem demokrasi modern, tak ada yang namanya “dana dari pemerintah”. Pemerintah tak punya dana. Pemerintah tak punya apa-apa. Pemerintah adalah pihak yang diberi amanah oleh rakyat untuk mengelola dana dan segala sumber daya yang ada di suatu wilayah, Aceh misalnya. Pemilik “dana pemerintah” sejatinya adalah rakyat. Artinya, setiap dana yang dikeluarkan pemerintah sebenarnya ikut membebani rakyat.

Beban rakyat
Data di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) menunjukkan, jumlah PTN/PTS di Aceh adalah yang terbanyak kedua setelah Sumatera Utara di Pulau Sumatra. Angka ini juga salah satu yang tertinggi di Indonesia. Bahkan untuk jumlah PTN, Aceh menduduki peringkat pertama di Sumatera. Tentu saja ini sebuah kebanggaan untuk kita.

Bagaimana tidak, dengan penduduk sekitar 5 juta jiwa, Aceh saat ini memiliki 8 PTN yang dapat menghasilkan sarjana. Sebagian PTS lain sedang berusaha agar “dinegerikan” juga. Sebagian sudah juga melahirkan banyak magister dan sejumlah doktor. Bandingkan dengan Singapura, sebuah negara yang penduduknya 6 juta jiwa, yang memiliki hanya 3 PTN sementara selebihnya adalah politeknik dan sekolah vokasi lainnya. Provinsi tetangga kita, Sumatera Utara yang berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa, memiliki PTN yang jauh lebih sedikit dari Aceh.

Kalau dilihat lebih dalam, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Aceh memang selalu berada di puncak untuk Pulau Sumatera bersama Sumatera Barat. APK pendidikan tinggi Aceh adalah 0,38 sementara Sumatera Barat 0,42. Artinya, setiap 100 penduduk berusia 19-23 tahun di Aceh, 38 di antaranya tercatat sebagai mahasiswa. Angka ini jauh lebih tinggi dari provinsi lain di Sumatera termasuk Sumatera Utara. Bahkan angka APK pendidikan tinggi Aceh dan Sumbar ini jauh di atas rata-rata Nasional yang masih berada pada kisaran 0,20-0,25. Artinya, masyarakat Aceh dan Padang adalah masyarakat yang punya tradisi belajar hingga jenjang pendidikan tertinggi.

Tentu saja tak ada yang salah dengan fakta ini. Bahkan kita, sekali lagi, layak bangga. Tapi jangan lupa, setiap kita yang menempuh pendidikan, terutama di pendidikan negeri, dari SDN hingga PTN pasti selalu menggunakan “uang dan sumber daya rakyat”. Walaupun kita membayar SPP yang cukup tinggi di PTN paling ternama sekalipun, biaya SPP itu tetap saja tidak cukup untuk mencetak sarjana. Artinya, rakyat menanggung beban dalam menghasilkan setiap sarjana di negeri ini.

Lebih gawatnya lagi, masa studi mahasiswa di Aceh rata-rata lebih lama dari mahasiswa di provinsi lain di Sumatera. Artinya, makin banyak “uang rakyat” terpakai untuk melahirkan setiap sarjana. Apalagi untuk menghasilkan magister dan doktor yang memerlukan biaya jauh lebih besar. Sudah menjadi pengetahuan umum, walaupun pendidikan pascasarjana dibandrol lebih mahal oleh PTN/PTS, sebagian besar program pascasarjana harus disubsidi karena jumlah mahasiswanya sangat sedikit pada sebagian besar program. Ini juga “beban rakyat” yang harus memberi subsidi di sana-sini.

Miskin kualitas
Mengapa masa studi mahasiswa di Aceh rata-rata lebih lama dari mahasiswa di PTN/PTS provinsi lain di Sumatera dan juga di tingkat nasional? Ada banyak faktor yang mempengaruhi masa studi seorang calon sarjana. Tapi bagi calon sarjana di Aceh bisa jadi berlama-lama menjadi mahasiswa adalah pilihan buruk dari pilihan yang lebih buruk: menjadi pengangguran setelah masa mahasiswa.

Bagi yang banyak bainah, harta keluarga termasuk harta warisan, “membelanjakannya untuk keperluan pendidikan” bukanlah sebuah keputusan sulit. Bagi sebagian bahkan dianggap bagian dari perjuangan suci keluarga dan kaumnya demi melahirkan sarjana pertama dalam keluarga. Berbahagialah orang tua yang anak-anaknya tekun di bangku kuliah, memang belajar sesuatu dari kampusnya, dan terus berusaha untuk segera lulus dan siap masuk dunia kerja.

Banyak juga mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa penuh pada sebagian atau bahkan sepanjang masa kuliahnya. Dengan prospek kerja yang suram setelah masa studi di kampus, ada insentif besar untuk memelihara “status mahasiswa”. Ada mahasiswa yang berseloroh, “Mendingan jadi mahasiswa “abadi” karena paling tidak pada kolom pekerjaan di KTP tercantum 'Pekerjaan: Mahasiswa’.” Tambahan lagi, status sosial mahasiswa yang cukup baik dalam masyarakat Aceh, terutama di wilayah rural.

Tapi tak sedikit mahasiswa yang datang dari kampung di pelosok Aceh untuk kuliah yang kemudian mendarat di kampus-kampus yang “belajarnya tak ada, tapi ijazah ada”. Lebih celaka lagi jika si anak sendiri datang ke Banda Aceh sebagai bagian dari pelarian dari hidup di kampung dan mendapat kampus yang juga bagian dari bentuk pelarian bisnis dalam dunia pendidikan “orang-orang kota”. Yang terakhir ini adalah bagian dari ancaman moral (moral hazard) dunia pendidikan yang mendewakan gelar dan memburu ijazah. Kualitas dan keahlian tak lagi menjadi pembeda mereka yang sarjana dengan yang bukan. (Bersambung)

* Saiful Mahdi, Ph.D., Fulbright Scholar dan Ketua Prodi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: saiful.mahdi@unsyiah.ac.id

sumber: tribunnews

E-Ticketing TransK Dibagikan Gratis di Dalam Bus

BANDA ACEH - Kartu E-Ticketing (karcis) untuk penumpang Transkoetaradja (TransK) mulai Senin (23/5) depan dibagikan secara gratis. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi, Informasi, dan Telematika (Kadishubkomintel) Aceh melalui Kasi Angkutan, M Alqadri mengatakan, sebanyak 1.000 kartu e-ticketing (Brizzy dan E-Money) akan dibagikan di dalam bus TransK selama seminggu.
“Pembagian 1.000 kartu dilakukan kepada penumpang di dalam bussecara gratis, dalam waktu satu minggu (23-29 Mei 2016). Sebab, mulai 30 Mei nanti semua penumpang TransK akan terdata,” kata Alqadri, yang didampingi Kabid LLAJ Dishubkominfo Banda Aceh, Zubir di ruang kerjanya.
Menurutnya, di dalam kartu tersebut sudah berisi voucher Rp 5.000, yang dapat digunakan untuk 5.000 kali perjalanan bagi pelajar. “Setiap pelajar yang naik TransK akan dipotong Rp 1, sedangkan bagi pengguna umum dipotong Rp 2. Potongan tersebut untuk keperluan pendataan, bukan tarif TransK,” jelas Alqadri, dan mengatakan bahwa kondektur (kernek) akan membimbing penumpang TransK terkait penggunaan kartu itu.

Alqadri mengatakan, bagi masyarakat yang tidak mendapat kartu e-ticketing jangan khawatir, karena tetap bisa menaiki transK. “Kondektur bus juga mempunyai kartu itu. Jadi dia bisa melakukan taping untuk penumpang dengan kartunya itu. Selain itu, satu kartu e-ticketing bisa taping hingga 10 kali, artinya satu pengguna bisa menanggung 9 penumpang lainnya yang tak memiliki kartu,” jelasnya.
Cara menggunakan kartu brizzy maupun e-money kata Alqadri sangat mudah. Saat penumpang memasuki bus, di sebelah kanan pintu masuk terdapat alat pemindai kartu atau mesin edisi yang berfungsi sebagai pemindai kartu.

“Tekan tombol 1 untuk pelajar atau tombol 2 untuk umum yang terdapat pada alat. Kemudian akan terdengar bunyi alarm yang menandakan segera tempelkan kartu pada layar alat. Beberapa detik kemudian akan keluar struk dari alat tersebut tanda registrasi sukses,” jelasnya.

Pada bagian lain Zubir menambahkan, pihaknya akan menambah satu unit bus feeder (pengumpan) untuk mahasiswa Syiah Kuala (Unsyiah). Hal tersebut menyahuti surat permintaan layanan bus feeder yang ditandatangani Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng pada 12 Mei lalu.

“Penambahan 1 unit bus feeder ini untuk membantu mahasiswa Unsyiah yang menggunakan TransK. Bus feeder ini berukuran sedang dengan 29 seat di dalamnya, berwarna biru, dan menjangkau semua fakultas Unsyiah,” kata Zubir.(fit)

sumber: tribunnews